Ordo Saudara-Saudara Dina
Hidup Injil dalam Semangat Santo Fransiskus
Fransiskan adalah anggota dari keluarga besar ordo dan kongregasi religius yang mengikuti spiritualitas Santo Fransiskus dari Assisi. Gerakan ini dimulai pada awal abad ke-13 dan telah berkembang menjadi salah satu keluarga religius terbesar dalam Gereja Katolik.
Nama "Fransiskan" mencakup tidak hanya biarawan dan biarawati, tetapi juga kaum awam yang hidup menurut spiritualitas Fransiskan. Mereka semua dipersatukan oleh komitmen untuk hidup Injil dengan cara Santo Fransiskus: dalam kesederhanaan, kemiskinan, kerendahan hati, dan cinta kepada semua ciptaan.
Motto Fransiskan: "Pax et Bonum" (Damai dan Kebaikan) - sapaan khas yang digunakan Santo Fransiskus yang mencerminkan misi mereka membawa damai dan kebaikan Allah ke dunia.
Santo Fransiskus mendirikan tiga Ordo yang berbeda namun saling berkaitan, masing-masing dengan panggilan khusus dalam Gereja dan dunia.
Para bruder/frater yang hidup dalam komunitas dengan kaul kemiskinan, kemurnian, dan ketaatan. Mereka dikenal sebagai "Saudara Dina" atau "Friars Minor".
Didirikan: 1209 oleh Santo Fransiskus dari Assisi
Para suster kontemplatif yang hidup dalam biara tertutup dengan gaya hidup doa, kemiskinan, dan kontemplasi. Mereka dikenal sebagai "Poor Clares" atau "Klarisan".
Didirikan: 1212 oleh Santa Clara dari Assisi
Kaum awam (laki-laki dan perempuan, menikah atau lajang) yang hidup dalam dunia dengan spiritualitas Fransiskan sambil menjalankan profesi dan kehidupan mereka.
Didirikan: 1221 oleh Santo Fransiskus dari Assisi
Mengikuti Kristus dengan mengamalkan Injil secara harfiah dan radikal dalam kehidupan sehari-hari, terutama dalam hal kemiskinan dan kerendahan hati.
Menempatkan diri sebagai yang terkecil dan melayani, bukan dilayani. Hidup sederhana tanpa keinginan untuk berkuasa atau memiliki.
Hidup dalam persaudaraan sejati, saling mengasihi dan melayani dalam komunitas, serta memperlakukan semua orang sebagai saudara dan saudari.
Hidup dalam sukacita sejati yang berasal dari Allah, bukan dari kekayaan atau kenyamanan duniawi. Fransiskus disebut "Jonggler Allah" karena kegembiraannya.
Fransiskan dipanggil untuk mengasihi semua ciptaan Allah - manusia, hewan, tumbuhan, dan seluruh alam - sebagai saudara dan saudari. Ini mencakup kepedulian khusus terhadap kaum miskin, yang sakit, dan yang terpinggirkan, serta komitmen untuk pelestarian lingkungan sebagai rumah bersama yang dipercayakan Allah kepada kita.
Fransiskan dipanggil untuk menjadi instrumen damai dan rekonsiliasi di dunia. Ini melibatkan non-kekerasan, dialog antar agama dan budaya, keadilan sosial, dan kerja aktif untuk perdamaian. Santo Fransiskus sendiri menunjukkan ini dengan perjalanannya menemui Sultan selama Perang Salib.
Kehadiran Fransiskan di Indonesia telah memberikan kontribusi signifikan bagi perkembangan Gereja Katolik dan masyarakat Indonesia selama lebih dari satu abad.
Fransiskan mengelola banyak sekolah, dari tingkat dasar hingga perguruan tinggi, memberikan pendidikan berkualitas yang didasarkan pada nilai-nilai Kristiani dan humanis.
Rumah sakit, klinik, dan pusat kesehatan yang dikelola Fransiskan melayani masyarakat dengan semangat kasih dan perhatian khusus kepada yang miskin dan tidak mampu.
Fransiskan aktif dalam pelayanan pastoral di berbagai paroki, melayani umat dengan semangat kesederhanaan dan kedekat an dengan rakyat kecil.
Program-program pemberdayaan ekonomi, pendampingan masyarakat miskin, dan advokasi untuk keadilan sosial serta pelestarian lingkungan.
Di tengah tantangan dunia modern - ketidakadilan sosial, krisis ekologi, konflik, dan materialisme - spiritualitas Fransiskan menawarkan jalan alternatif yang relevan dan mendesak.
Fransiskan aktif dalam gerakan pelestarian lingkungan, mengamalkan visi Santo Fransiskus yang melihat semua ciptaan sebagai keluarga. Ensiklik Paus Fransiskus "Laudato Si'" sangat dipengaruhi oleh spiritualitas Fransiskan.
Komitmen untuk keadilan sosial, hak asasi manusia, dan perdamaian adalah bagian integral dari misi Fransiskan kontemporer, melanjutkan tradisi Santo Fransiskus sebagai pembawa damai.
Fransiskan terlibat dalam dialog dengan berbagai agama dan budaya, mengikuti teladan Santo Fransiskus yang berani menemui Sultan Al-Kamil dengan sikap respek dan persaudaraan.
Spiritualitas Fransiskan terbuka untuk semua orang, baik yang terpanggil untuk hidup religius maupun yang ingin menghidupi nilai-nilai Fransiskan dalam kehidupan sehari-hari.